Sang Dewi - Pintu Kedua

4:38:00 AM


(Lanjutan dari "Sang Bintang-Pintu Pertama")
WAKTU YANG TAK TERDUGA
Ini bukanlah mimpi. Angin barat telah mempertemukanku dengan figur sang Dewi. Sikapnya yang santun, membuaiku dalam lamunan yang menembus kabut putih. Kembali ku menguak memori yang telah mengakar di lubuk hatiku. Seakan keajaiban dunia telah meluruh pada satu kisah yang tak jelas asal muasalnya. Perjalanan ini dimulai dari sirkulasi waktu yang serba terlambat. Yang tak pernah memihakku di kala diri ini sedang didera kesepian yang dalam.
“Wahai kawan lama, masihkah kau ingat diriku…?” suaranya pelan dan merdu bagai seorang biduanita. Menembus tabir penutup hatiku, memberi cahaya pada relung jiwa yang telah tertutup dan beralang-alang selama beberapa jeda ini.
Perlahan, kubuka pelan penutup wajahnya yang berwarna biru. Kegelapan ini membuatku hanya mampu menyibak baying kelamnya saja. Tak bisa kulihat wajah cantiknya di kala itu. Sambil tersipu, dia menjauh dari langkahku, membelakangi sosokku. Entah apa yang membuatnya takut dan menghidariku.
“Aku bukanlah siapa-siapa di masa lalumu, apakah kau masih akan mengingatku?” tanyanya mengundang rasa penasaran dan kelabilan ombak hatiku.
“Setiap orang yang kutemui memiliki peran dalam hidupku. Walau peran itu kecil, tapi tan pa peran itu aku tidaklah akan menjadi diriku yang sekarang. Andai kita pernah bersua di rentang waktu lalu, apakah kau telah mengenalku dalam arti yang sesungguhnya? Atau kau hanya menutupi kepura-puraanmu dalam bersikap, tanpa mempedulikan hati orang lain yang berusaha mengejarmu dan meraihmu dalam suatu pertemuan yang tak terduga?” balasku menyikapi keraguannya.
Kata demi kata yang terlontar dari mulutku nampaknya membuatnya terperangah. Suara halusnya tak bergeming dan senyumnya mengembang. Senyum yang selama ini pernah kukenang sebagai keputus asaan. Sikap yang ayu, bagai putri keraton yang meluluhlantakkan pendirian seorang pemuja cinta. Dia buka penutup wajahnya dan mulai bersenandung pelan. Nada demi nada seakan membuatku melayang, bagai garputala yang mengikuti suaranya. Entah darimana suara lembut itu berasal. Mataku mengikuti gerakan bibirnya yang syahdu. Jiwaku terhisap dalam lirik-lirik melankolis di antara irama yang yang merdu.
Aku terhipnotis. Aku terbius. Tenggorokanku makin kering di tebalnya kabut putih ini. Sang Dewi perlahan menarik tanganku dan mengajakku menari. Kabut yang dingin dalam sekejap lenyap berganti hangatnya mentari pagi yang perlahan muncul dari ufuk timur.
Ingatanku seakan berjungkir balik dalam biasan semu. Aku mencoba mengingat dalam egoku sebagai insane pendosa. Jemari Sang Dewi menggiringku ke lamunan masa kecil. Aku mulai teringat tentang masa lalunya bersamaku.
Ya, dialah gadis kecil itu. Gadis kecil yang selalu membuatku terpana. Gadis kecil yang diam-diam kukejar walau aku tahu dia pun telah mengejarku. Skenario cinta semu di masa lalu telah membuat kami terjebak dalam labirin dan tak bisa menemukan jalan keluar. Hingga pada akhirnya benang yang telah tumbuh di antara kami hilang dan lenyap entah ke mana.
Namun, namanya dan namaku yang telah terukir dalam janji papan kayu telah menyatukan kami. Sang Biduanita itu ternyata gadis kecil yang telah menjelma menjadi Sang Dewi. Dahulu kau kupuja, dan sekarang kau tiba-tiba muncul dengan tabir biru yang menutupimu. Ada apa gerangan yang kau cari? Cukup pantaskah aku menemuimu dalam ketiadaanku dan kehampaanku?
Hatiku mulai bergejolak. Menentang semua prinsip dan amanah yang telah terpatri. Melepas semua janji untuk tak mengulangi kejadian bodoh yang terlepas dari kisah yang lain. Dalam satu lagu dia telah membawaku ke pelangi yang telah pudar. Memunculkan kembali warna-warna cerah di langit. Walau kulihat aura di sekelilingnya tampak dalam kegundahan yang amat dalam.
Di anak tangga ke seratus atau entah keberapa yang tanpa aku sadari aku tanjak, dia tiba-tiba menghentikan nyanyiannya. Suasana sepi dan kelam tiba-tiba menyelubunginya. Langit mendung membuat sinaran matahari berubah menjadi mozaik yang tak jelas bentuknya.
Tanpa sempat bercerita, tiba-tiba dia berlari meninggalkanku. Meninggalkan aku yang terdiam tanpa mendapat jawaban atas keraguan itu. Aku tak sanggup mengejarnya walau aku ingin. Namun, kaki ini seakan tertancap ke anak tangga ini dan tubuh ini tak kuasa untuk memberontak….
WAKTU YANG HILANG
Langkahku gontai tak tentu arah. Terus mencari suara yang kurindukan dalam hutan belantara. Tiap daun yang kusibakkan tak lagi membuat jalan yang kosong, namun malah menambah sesat arahku. Tiada lagi penunjuk jalanku. Dalam keputus asaan ini, aku berteriak menantang alam :
“Sang dewi, di manakah kau berada? Kenyataan memang pahit. Tak selalu tertulis dengan tinta emas. Tak selalu terasa manis seperti gula-gula. Tak selalu berakhir bahagia seperti kisah sang pangeran yang menyelamatkan sang putri. Namun hati ini satu, yang berbilik kosong. Senantiasa bersedia menerimamu dalam ketulusan. Bila kau berkenan, biarkanlah sepimu terisi dengan sepiku. Biarkanlah kehampaan berisi dengan kehampaan. Di mana ruang dan waktu itu hanya aku dan kamu yang memiliki. Menghapus jejak kesedihan yang ada di antara kita…”
Tiba-tiba angin berhembus kencang. Memberikan jalan setapak untuk kutempuh. Membujukku terus melangkah dan selalu mengejar impian.
Tanpa diduga, di muara sungai jalan itu terhenti. Di tepi muara, berdiri sosok yang sudah tak asing bagiku. Siluet biru yang hari demi hari kucari dalam kegelapan kini telah muncul. Sang Dewi. Dia telah datang kembali di hadapanku. Seolah tak percaya, kutengguk air muara sungai yang segar bagai anggur merah.
“Kenapa kau masih mencariku, kawan lamaku? Apakah kau sudah mengetahui masa laluku yang kelam? Jangan kaubuang waktumu untuk aku. Aku hanyalah seseorang yang pernah mengagumimu di masa lalu…” kembali nada keraguan itulah muncul dari bibir merahnya.
“Ya…” Jawabku tegas.
“Aku tahu dikau, putriku nan indah…alam seakan mempertemukan kitau, walau jalan ini tlah berbeda, walau raga ini tlah berubah bentuk, namun kau tetaplah engkau…dan aku adalah aku. Yang juga slalu mengagumimu. Yang slalu mendambamu dalam mimpi dan asaku. Biarkan aku sejenak mendampingimu. Agar kau bahagia dalam hatimu yang terbelenggu. Agar kau tak menangis di kala kau seharusnya bahagia. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk meringankan bebanmu, mungkin aku tercipta sebagai penghiburmu”
Kata-kataku balas menyentuh hatinya yang tadinya tak bergeming, merasuk ke kalbunya yang telah beku, menjelma menjadi cinta dan kelembutan. Auranya yang tadinya hitam bermetamorfosa menjadi kuning dan oranye, pertanda kebahagiaan telah muncul dari bayangannya.
Tanpa dirasa, jemarinya menggandengku pelan dan terbang ke nirwana tempat dia berada…
WAKTU YANG MENENTUKAN
“Diri ini kosong. Tak pernah menemukan sinar secerah ini. Kau membuatku bangkit kembali dengan nyanyianmu. Kekagumanku tak akan pernah pudar dimakan zaman. Kau memabukkan bagai secangkir tuak, kau indah bagai pahatan seniman handal, kau mengalir bagai sungai bening berhiaskan giok hijau…”
Ingin kuciptakan sejuta puisi untuknya. Ingin kulenyapkan semua gundahnya, ingin kubersamanya tiap saat tiap waktu, tapi waktu ini sungguh tak bisa ditebak. Waktu ini kadang memberiku kesempatan, namun kadang membunuhku dengan semua misterinya.
Begitu pun dia, ingin bersamaku tiap saat, menentang arus yang deras, berdiri bagai kokohnya karang dan terbang mengelilingi planet yang indah ini. Dia menganggapku bagai harta yang tak ternilai harganya. Bagai mutiara hilang yang telah ditemukan di dasar samudera.
“jangan pernah mencariku, Jangan pernah membenciku…”
Itulah kata-kata terakhirnya untukku. Sebelum dia terbang ke dunianya dan tak akan kembali...
Ya. Dia telah hilang entah ke mana. Namun yang kutahu, pasti alam kan mendengar kerinduan kami dan mempertemukan kami kembali. Entah dengan peran seperti apa lagi. Namun akan slalu kusimpan setiap kisahnya di dalam kenanganku.
Hanya untuknya…Untuk Sang Dewi…
















You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook

Flickr Images