UJUNG GENTENG, CIPANARIKAN, PANGUMBAHAN, CIKASO

5:15:00 PM

Mengenal Si Penyu Yang Unyu
  
“Sea turtle is penyu, and penyu is unyu… Unyu means cute, right??”
Hahayyy…Ajaran bahasa ga jelas dan ngawur ala Uncle Jo ini dimakan mentah-mentah oleh Sam Lai, salah satu kolega dari Taiwan. Serantak kami pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Yup, bicara mengenai Ujung genteng pasti tak jauh dari si penyu yang unyu. Karena di sinilah salah satu tempat penangkaran penyu. Umumnya, penyu yang ada di sini adalah penyu hijau.
Dan inilah cerita kami…
DAY1 – berangkat subuh jam 5 menuju meeting point di Taman Anggrek. Dari BAT Travelers ternyata yang ikut lumayan banyak. Tapi kami sudah terlanjur join Sunburst Adventure yang memang sudah pengalaman dalam mengadakan tour ke Ujung Genteng. Yah, sekali-kali tinggal duduk manis dan menikmati ciptaan keindahan alam yang ada…hehehe…
Trip cost kali ini 580 ribu all in.

Pukul 6.15, bus berpenumpang 25 orang diberangkatkan. Peserta keseluruhan ada sekitar 21 orang. Di bus in ada 2 turis asing, salah satunya teman kami, Sam Lai. Pemuda asal Taiwan ini memang punya hobby travelling. Dan setelah melihat keindahan Jogja bersama BAT Travelers, dia ketagihan untuk ikut lagi dalam Ujung Genteng trip kali ini.  
Perjalanan ke ujung genteng diperkirakan sekitar 7 jam. Di tengah perjalanan sekitar jam 12 siang, kami makan siang di tengah-tengah perkebunan teh. Menu nasi bungkus seadanya cukup mengisi perut kami. Perut memang ga boleh terlalu kosong, tapi juga jangan terlalu penuh. Karena jalan menuju lokasi berkelok-kelok dan belum terlalu bagus.
Lunch on tea garden
Pukul 2 siang, akhirnya,,,(dengan pantat pegel dan kaki kesemutan)  kami tiba di villa Hexa yang berada tepat di pinggir pantai. Villa yang cukup luas dan terbagi menjadi beberapa cottage dan kamar ini ini memang cukup nyaman. Fasilitas AC, cable TV, kamar mandi dalam, kolam renang. Satu kamar digunakan berempat. Hmmm…sebanding lah dengan biaya yang dikeluarkan..
Pondok Hexa
Setelah pembagian kamar, istirahat sebentar dan sholat, kami pun berkumpul kembali di aula. Di depan aula, para tukang ojek telah menunggu. Mereka siap mengantar kami ke lokasi wisata Ujung genteng. Biaya ojek ini sudah termasuk dalam paket.

Tujuan pertama adalah Pantai Cipanarikan. Nama yang cukup unik. Sekitar 15 menit naik ojek, nyampe juga kami ke pantai yang dimaksud. Tapi karena hujan lebat tadi malam, jalan tergenang air jadi kami harus menyeberangi jalan setapak yang sudah menjadi sungai kecil…(hihihi…gue paling suka yang ginian…jadi ada ceritanya. Kalo normal2 aja mah ga seruu…!!). reaksi peserta pun macem2, ada yang jijik lah, takut ular lah, takut kadal lah, takut lumpur lah…rame dahhh…
Nyebrang sungai
Tiba di pantai cipanarikan, gue takjub dengan pemandangan sekitar. Padang pasir yang luas dan deburan ombak yang cukup tinggi adalah kombinasi yang sempurna. Setelah sempat foto-foto di padang pasir putih, gue pun menyusul beberapa teman yang sudah tidak sabar untuk nyebur ke laut. Dasar penyu…!! :)
Pantai yang luas seperti padang pasir

Kami pun bergandengan tangan satu sama lain, berlari menantang ombak dan…..byurrrr….ombak besar menerpa badan kami…segarrrrr luarrr biasaaaa…..
Bermain dengan ombak, bermain pasir, tertawa bebas… ya, inilah hidup kawan. Jauh dari polusi kota, langit tak tertutup gedung, tidak ada suara bising mesin kendaraan. Hanya kita dan alam…itulah kebebasan! Itulah kebahagiaan!

Pantai Cipanarikan

Setelah puas bermain, tak terasa sudah menjelang sunset dan kami pun kembali naik ojek yang setia menanti kami untuk menuju ke Pangumbahan. Lokasi pangumbahan searah dengan arah pulang ke villa kami. Tempat berpagar yang dijaga petugas ini adalah tempat penangkaran penyu. Dan sore ini kami akan melakukan pelepasan anak-anak penyu yang unyu-unyu…
Karena masih belum waktunya, tanpa dikomando, kami pun main air lagi dna basah lagi…emang dasar penyu!! Hahaha…:)
Dan ketika para petugas mulai menyerukan dari pengeras suara bahwa pelepasan penyu dimulai, kami pun berkumpul di satu barisan. Tukik alias anak penyu dibagikan satu per satu. Dan dengan komando sang petugas, kami pun melepas penyu itu bebarengan. Wawww…lucu!! Malah kaya jadi balapan penyu!
Anak-anak penyu itu berlari bebas menuju debur ombak. Ada yang langsung berlari, ada pula yang takut air. Tapi pada akhirnya semua bebas ke laut dengan selamat. Yah, semoga keberadaan penyu ini terjaga dan tidak punah. Tanpa terasa, sunset yang indah pun menyertai kepergian penyu-penyu kecil itu…(hiks, kalo cerita ini ditambahi lagu melankolis nan romantis pasti jadi makin mengharukan yahhh…)

Si penyu yang unyu lepas bebas ke laut
Pulang ke villa, kami pun berebut untuk satu tujuan: mandi. Pasir dan air laut yang lengket bikin risih. Sembari antri, kartu remi pun dikeluarkan untuk menghilangkan kejenuhan. Sekedar info, belilah air mineral yang banyak, karena air ledeng yang ada ternyata payau, dan warung di depan villa ternyata tutup jam 9 malam.
Setelah mandi, kami bersantap malam dengan makanan ala kadarnya dan bersiap untuk menuju Pangumbahan lagi. Kali ini untuk melihat si ibu penyu bertelur. Kegiatan ini optional, jadi harus keluar biaya tambahan. Untuk ojek 40 ribu dan tiket masuk 5 ribu. Sebelum berangkat, kami bermain bilyar yang ada di villa, sambil menunggu telpon dari Pangumbahan kalo penyu sudah ada yang ke pantai.
Jam 9 malam, sudah ada telpon dari petugas Pangumbahan. Ojek pun segera menjemput kami dan kami pun bergegas ke pantai Pangumbahan. Dari tukang ojek, gue mendapat info kalo sebenarnya ada pantai satu lagi yang menarik untuk dikunjungi, yaitu pantai ombak tujuh. Pantai ini berupa karang dan pasir putih. Pemandangan pantai yang berjarak 17 kilometer ini cocok untuk fotografi. Tapi biaya ojek nya pun cukup mahal karena jauhnya lokasi dan jalan setapak yang belum begitu bagus. Mungkin sekitar 100 ribuan termasuk paket pantai-pantai yang lain (hub : Kang Ogut 087881258984 untuk info lebih lanjut)
Tiba di Pangumbahan, kami segera ke pantai. Suasana pantai sangat gelap karena memang tidak ada penerangan. Kami dilarang menggunakan senter ataupun blitz kamera. Di anatar semak-semak di pinggir pantai, tampak induk penyu hijau sedang bertelur. Induk penyu yang berukuran cukup besar ini pun menutup telurnya dengan pasir setelah bertelur. Sangat sulit melihat proses bertelurnya karena selain gelap, banyaknya pengunjung malam ini menghalangi pandangan mata.
Hujan gerimis sempat mengguyur, dan akhirnya beberapa pengunjung kembali ke homebase dan pulang. Gue pun ikut ke homebase para penjaga penyu untuk berteduh. Tapi ternyata teman-teman ngga ada. Mereka nampaknya meneruskan pencarian penyu yang lain. Ada beberapa penyuka hobi fotografi yang kecewa lantaran dilarang menggunakan blitz.  Tapi mereka juga sadar jika itu bisa mengganggu proses bertelurnya penyu tersebut. Setelah agak reda, gue pun kembali ke pantai dan mencoba mencari teman-teman. Tapi pandangan mata yang gelap tanpa lampu senter menyebabkan gue ngga menemukan rombongan gue. Akhirnya gue memutuskan untuk kembali ke penyu yang tadi bertelur di semak-semak. Tampaknya dia telah selesai bertelur, sehingga gue pun diperbolehkan untuk foto bareng si emak penyu ini.
Induk penyu bertelur 
Setelah pulang kembali ke homebase, rombongan gue tetap tidak ada. Lima menit menunggu, akhirnya mereka terlihat. Dan sedikit kecewa karena ngga mendapat foto dengan si penyu…(Lucky me..!!)

Jam 10 malam, akhirnya kami kembali ke penginapan. Kegiatan selanjutnya adalah tidurrrr…(setelah ngemil dan main kartu, tentunya…)

DAY2 - Good morning, Ujung Genteng!
Semilir angin dari pintu membangunkanku dari tidur. Sam laid an Nico nampaknya sudah terbangun lebih dulu. Setelah cuci muka, gue sempetin jalan kaki menyusuri pantai yang ada di depan penginapan. Suasana pantai di pagi hari memang yang kunantikan. Suasana damai dan tenang dengan langit yang cerah, setelah tengah malam tadi hujan turun cukup deras. Hari kedua ini kami akan menuju ke Amanda ratu dan air terjun cikaso.
Pagi di ujung genteng
Jam 8.30, setelah mandi dan packing, kami naik bus lagi menuju Amanda ratu. Amanda ratu yang berjarak sekitar 15 menit dari villa kami ini merupakan villa dengan private beach yang elok. Pemandangan yang mirip Tanah Lot DI Bali ini menjadi daya tarik andalan villa ini. Namun jangan harap bermain air di pantai ini karena yang ada adalah tebing yang curam dan deburan ombak yang keras terpecah menghantam karang.
Pantai Amanda Ratu
Setelah puas mengambil foto di tempat ini, kami bersiap menuju ke air terjun Cikaso. Perjalanan dari Amanda ratu berjarak sekitar 20 menit. Sesampainya di areal parkir, kami menuju sungai yang cukup besar. Beberapa kapal telah menunggu kami untuk mengantarkan ke air terjun Cikaso. Setelah mengarungi sungai sekitar 10 menit, nampaklah air terjun yang dimaksud.
Naik Perahu menuju air terjun cikaso
Subhanallah, sungguh indah ciptaanMu ya Allah…
Cikaso Waterfall
Air terjun yang tinggi dan deras ini terpecah menjadi 3 bagian. Dan karena hujan semalam, debit air yang keluar menambah dahsyatnya air terjun ini. Pecikan airnya seakan menampar wajah kami ketika mencoba mendekat. Tapi rasa penasaran dan narsis bareng membuat kami bertahan dan tetap mendekat. Air terjun ini seakan menghipnotis kami untuk terus mendekat. Dan akhirnya basahlah kami semua…
Air yang segar dengan percikannya yang membuat halsinasi pelangi ini memang sangat Indah. Seolah tak rela berkedip untuk menikmati keindahan ini. Air terjun yang paling besar berada di tengah, dan bodohnya, di situlah kami berada. Alhasil foto yang dihasilkan pun kalah sama semburan air yang ada…hahahaha…

Tapi, swear…air terjun ini sangat indah dan menakjubkan. Salah satu asset wisata yang perlu dijaga dan dilestarikan. Tapi datanglah di saat yang tepat. Karena bila kemarau airnya sedikit. Dan bila musim hujan, jadilah seperti kami. Diguyur air bak mandi di shower. Tapi emang niatnya mo mandi, jadi cocok lah bagi kami yang emang belum mandi pagi. Hehehe…

Yahhhh…akhirnya selesai juga trip kali ini. Si penyu, si unyu, dan air terjun Cikaso…selalu di hati… :)


#26-27 November 2011#
Trip cost : 650 ribu 

(Thanks to Cindy-Sunburst adventure)


You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook

Flickr Images